Belajar Memaafkan Diri dan Mengasuh dengan Hati Melalui Workshop MUP

 

dokpri


Anak tidak membutuhkan ayah yang sempurna. Mereka membutuhkan ayah yang mau belajar, mengakui kesalahan, dan terus memperbaiki diri.

 

Fenomena aktivitas harian yang saya lakukan yaitu bangun pagi, bekerja, menyelesaikan tanggung jawab, lalu pulang dengan tubuh lelah dan pikiran yang masih dipenuhi urusan pekerjaan. Saya merasa bahwa telah melakukan banyak hal untuk keluarga. Namun, sering terbersit bahwa apakah yang saya lakukan ini sudah sesuai yang dibutuhkan keluarga maupun anak-anak? Pertanyaan yang kerap jawabannya mengajak saya merenungkan kembali makna menjadi seorang ayah.

Rasa penasaran tersebut membuat saya berefleksi. Akhirnya sebuah algotima dalam handphone saya ternyata bekerja. Di saat saya membutuhkan jawaban tersebut, sepertinya Allah memberikan jawaban melalui algoritma handphone dan mengarahkan saya kepada Workshop MUP (Membayar Utang Pengasuhan) yang diselenggarakan Dandiah Care. Tanpa memikirkan waktu yang berlama-lama, saya pun akhirnya mendaftar dan bersedia untuk hadir di Novotel Jakarta, pada 25 Oktober 2026 mulai jam 08.30 hingga pukul 17.45 WIB.

Pada workshop tersebut saya menemukan perspektif menarik tentang pengasuhan, khususnya mengenai hubungan antara parenting dan parenthood. Materi ini mengingatkan bahwa mengasuh bukan sekadar melakukan berbagai tindakan untuk anak, melainkan juga tentang bagaimana kondisi batin kita ketika menjalankan peran sebagai orang tua.

Saya banyak beristighfar Ketika Kang Dandi maupun Teh Diah memaparkan materi pengasuhan. Mereka berdua mengajak refleksi terkait cara menasihati anak, memberikan batasan, dan mengajarkan kedisiplinan. Bahkan lebih dari itu, bagaimana cara orang tua untuk mampu melakukannya dengan tenang? Sering orang tua meminta anak mengendalikan emosi, tetapi bagaimana jika kita sendiri mudah marah ketika menghadapi kesalahan mereka? Sering awalnya memberikan nasehat dengan to the point dan itu ternyata kurang tepat. Karena justru itu akan membekas anak Ketika berada dalam dunia kerja nantinya. Justru seharusnya orang tua bisa mengarahkan sebuah pilihan agar anak yang memilih tanpa harus orang tua yang mengarahkan. Ternyata, mengetahui cara mengasuh belum tentu membuat saya selalu mampu mengasuh dengan baik.

 

Anak Adalah Harta yang Tak Tergantikan

Salah satu refleksi dalam workshop mengajak peserta memikirkan harta karun yang paling berharga. Kita diminta membayangkan bagaimana menjaga, merawat, dan melindungi sesuatu yang memiliki nilai istimewa bagi kehidupan kita.

Ada pesan penting dalam materi tersebut: nilai tidak datang dari harga, melainkan dari kisah dan ikatan di dalamnya. Anak juga tidak menjadi berharga karena prestasi, nilai rapor, atau kepatuhannya terhadap orang tua. Mereka berharga karena mereka adalah anak-anak kita, manusia yang memiliki perasaan, kebutuhan, dan perjalanan hidupnya sendiri.

Kesadaran ini mengingatkan saya bahwa tugas seorang ayah bukan sekadar memastikan anak mendapatkan pendidikan yang baik atau kebutuhan material yang cukup. Lebih dari itu, ayah perlu membangun ruang aman agar anak merasa dicintai, didengarkan, dan dihargai.

 

dokpri

Berani Mengakui Kesalahan

Tidak ada orang tua yang selalu benar. Ada kalanya kita berbicara terlalu keras, kehilangan kesabaran, atau tidak mampu memberikan perhatian ketika anak membutuhkannya. Setelah semuanya berlalu, penyesalan mungkin muncul. Kita mengulang kejadian itu dalam pikiran dan bertanya-tanya mengapa tidak bersikap lebih baik. Dan itu terjadi pada diri saya. Lagi-lagi saya beristighfar dan memohon ampun atas segala khilaf dan salah dalam pengasuhan kepada anak-anak. Maafkan abi yang sering kurang/belum tepat dalam pengasuhan ya Nak…

Materi self-forgiveness atau memaafkan diri mengajarkan bahwa penyesalan seharusnya menjadi jalan menuju perbaikan, bukan hukuman yang terus-menerus kita berikan kepada diri sendiri. Memaafkan diri bukan berarti membenarkan kesalahan. Kita tetap perlu mengakuinya, meminta maaf jika telah menyakiti orang lain, dan berusaha memperbaiki perilaku.

Sebagai ayah, terkadang merasa meminta maaf kepada anak akan mengurangi kewibawaan. Padahal, justru sebaliknya. Ketika kita berani mengatakan, "Ayah minta maaf karena tadi berbicara terlalu keras," kita sedang memberikan teladan tentang tanggung jawab dan integritas.

Anak belajar bukan hanya dari nasihat yang kita sampaikan, tetapi juga dari tindakan yang mereka saksikan. Ketika suami-istri bertengkar, lalu anak-anak sempat menyaksikan perlu adanya pengakuan kepada anak bahwa yang dilihatnya itu wajar terjadi bagi orang dewasa. Namun, perlu juga kita menunjukkan kepada anak-anak bahwa suami-istri pun saling meminta maaf atas pertengkaran yang terjadi. Hal ini memberikan pengajaran bahwa permohonan maaf menjadi sebuah kebesaran hati. Jika kita ingin anak berani mengakui kesalahan, kita pun perlu menunjukkan keberanian yang sama.

 

Berhenti Sejenak Sebelum Merespons

Dalam workshop, peserta juga diperkenalkan dengan teknik Butterfly Hug, yaitu gerakan mengetuk kedua sisi tubuh secara bergantian sambil mengatur napas perlahan untuk membantu menenangkan diri.

Praktik sederhana ini mengingatkan saya bahwa terkadang kita perlu berhenti sebelum merespons keadaan. Ketika lelah, persoalan kecil dapat terasa besar. Pertanyaan anak bisa dianggap mengganggu, sedangkan kesalahan sederhana memancing kemarahan. Kita ingin semuanya segera selesai, tetapi lupa bahwa anak mungkin hanya membutuhkan perhatian.

Jeda sejenak memberi kesempatan kepada kita untuk mengenali emosi sebelum mengambil tindakan.  Menjadi ayah bukan berarti harus selalu kuat dan tidak boleh merasa lelah. Kita juga manusia yang memiliki keterbatasan. Mengakui keterbatasan dan mencari bantuan ketika diperlukan merupakan bagian dari menjaga diri sekaligus merawat hubungan keluarga.

Materi workshop turut mengajak saya selaku peserta merefleksikan Surah Al-Fatihah sebagai pengingat untuk memulai perjalanan memperbaiki diri dengan kasih sayang, rasa syukur, dan kesadaran bahwa kehidupan merupakan amanah. Bagi saya, pendekatan ini menegaskan bahwa memperbaiki pengasuhan tidak cukup hanya dengan mengetahui teori. Kita perlu melatih kesadaran, mengelola emosi, dan terus berikhtiar menjadi pribadi yang lebih baik.

 

Tujuh Hari untuk Memulai Perubahan

Bagian akhir materi menawarkan komitmen tujuh hari yang berisi langkah-langkah kecil untuk memperbaiki diri. Pesan ini terasa relevan karena perubahan tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar.

Kita bisa memulainya dengan mendengarkan anak tanpa terganggu telepon genggam. Kita bisa meminta maaf atas perkataan yang menyakitkan. Kita juga bisa menyediakan waktu khusus untuk berbincang dengan anak, tanpa terburu-buru menyela atau memberikan nasihat. Langkah kecil tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan secara konsisten, dapat menjadi awal perubahan dalam hubungan keluarga. 

Pada akhirnya, saya belajar bahwa menjadi ayah bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling mampu memenuhi kebutuhan keluarga. Menjadi ayah adalah perjalanan untuk terus belajar hadir, mendengarkan, dan memperbaiki diri. Saya mungkin tidak selalu berhasil. Akan ada hari ketika kesabaran kembali diuji dan kesalahan kembali terjadi. Namun, saya ingin terus belajar untuk tidak berhenti pada penyesalan.

Anak-anak akan tumbuh. Waktu bersama mereka tidak akan selalu tersedia seperti sekarang. Karena itu, sebelum mereka terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, saya ingin memastikan bahwa rumah tetap menjadi tempat mereka merasa aman untuk bercerita dan menjadi diri sendiri. Sebab, warisan terbaik seorang ayah bukanlah kesempurnaan yang ditampilkan, melainkan teladan tentang keberanian mengakui kesalahan, kesediaan meminta maaf, dan kemauan untuk terus bertumbuh demi orang-orang yang dicintainya. Semoga istiqomah yaa Allah, untuk Ananda tercinta yang kau titipkan yaa Allah… Aamiinn…

dok.DanDiah


Untuk info lebih lanjut terkait workshop atau konseling bisa langsung aja ke Dandiah Care yaa...:

website : https://dandiahcare.com

No.contact : 087730933965

dok.DanDiah


Komentar

Postingan Populer